Lama, terlalu lama aku tersesat dalam pikiranku sendiri. Berputar-putar dalam batas nadir mimpi-mimpi disela tidur yang insomnia dan kenyataan yang ternodai narkolepsi.
Bagaimanalah aku hendak menjelaskannya, ariadne? Aku menunggumu dan benang merah itu.
Benang merah yang kau bawa telah terlampau kusut... atau telah terjalin? Begitu indah, tapi begitu rumit... rumit tetapi indah. Seumpama proton, elektron dan neutron yang menyusun alam semesta, menari dalam harmoni
Tak ada yang tak terjelaskan oleh logika, hanya saja, bukan lagi logika manusia.
Senin, 18 Juli 2011
Kamis, 03 Februari 2011
Sekelumit dendam
30 Safar 1432 Hiriyah
Hampir 4 tahun lamanya, aku memelihara semacam permusuhan, sekelumit dendam yang tak kunjung dan tak bisa tuntas.
Serupa orang memelihara bayi buaya, tak dibelai-belai tak disayang-sayang, tapi diberi makan setiap hari sampai besar dan segemuk drum minyak tanah lantas melawan tuannya.
Aku bukan orang yang pendendam, samasekali bukan. Untuk apa menyimpan dendam bertahun-tahun sampai berkarat? setiap berjumpa muka terlihat masam, saat bicara penuh sindiran dan sampai-sampai saat tua dan beruban, ubannyapun kelihatan sinis?
Tapi, 4 tahun yang lalu, hanya tersisa dua pilihan buatku : Memilih untuk mendendam, atau memaafkan dan mengasihani diri sendiri. Jadi, harus bagaimana?
Aku tidak ingin mendendam, tapi lebih tidak ingin mengasihani diri sendiri. Aku harus tetap berjalan dengan kepala tegak.
Aku laki-laki, kalau cintaku memang nasibnya tak selamat, ya sudah, tapi harga diriku harus!! Kalaupun caranya adalah dengan menambah satu musuh, apa boleh buat.
Begitulah, bertahun dendam kupelihara. Dan tahukah kau kawan? dendam itu serupa komodo betina : Dia pasti akan beranak.
Dendam itu melahirkan kesepian buatku.
Hampir 4 tahun lamanya, aku memelihara semacam permusuhan, sekelumit dendam yang tak kunjung dan tak bisa tuntas.
Serupa orang memelihara bayi buaya, tak dibelai-belai tak disayang-sayang, tapi diberi makan setiap hari sampai besar dan segemuk drum minyak tanah lantas melawan tuannya.
Aku bukan orang yang pendendam, samasekali bukan. Untuk apa menyimpan dendam bertahun-tahun sampai berkarat? setiap berjumpa muka terlihat masam, saat bicara penuh sindiran dan sampai-sampai saat tua dan beruban, ubannyapun kelihatan sinis?
Tapi, 4 tahun yang lalu, hanya tersisa dua pilihan buatku : Memilih untuk mendendam, atau memaafkan dan mengasihani diri sendiri. Jadi, harus bagaimana?
Aku tidak ingin mendendam, tapi lebih tidak ingin mengasihani diri sendiri. Aku harus tetap berjalan dengan kepala tegak.
Aku laki-laki, kalau cintaku memang nasibnya tak selamat, ya sudah, tapi harga diriku harus!! Kalaupun caranya adalah dengan menambah satu musuh, apa boleh buat.
Begitulah, bertahun dendam kupelihara. Dan tahukah kau kawan? dendam itu serupa komodo betina : Dia pasti akan beranak.
Dendam itu melahirkan kesepian buatku.
Langganan:
Komentar (Atom)