Wah, besok udah masuk Ramadhan lagi. Tapi berhubung perhitungan tanggal Islam dimulai setelah maghrib, berarti secara tekhnis, sekarang sudah 1 Ramadhan. Yah, watever lah, puasanya tetap siang kok, bukan malam.
Dan belum tahu mau sahur dimana... jangankan urusan makan sahur - untuk ukuran orang yang tidurnya beda tipis sama pingsan ini - bangun sementara matahari masih berada di langitnya Alaska sono rasanya memang berat....
Jadi berharap banyak pada alarm HP yang disetel ke volume max
Alangkah indahnya tahun-tahun yang lalu, ketika urusan bangun sahur adalah urusan menunggu dibangunkan, menu sahur sudah tersedia, tak perlu keluar rumah, tak perlu pilih-pilih warung dan tak perlu berurusan dengan tukang warung yang memiliki muka berciri insomnia itu...
Hhhhhhhhh... (narik nafas, rebahan sambil termenung memandangi kelap kelip cahaya bintang dilangit - yang entah sejak kapan bisa nembus loteng...)
Ah...alangkah cepatnya waktu berlalu, "time does fly"
1 Ramadhan dua tahun lalu, adalah awal aku mulai belajar untuk berdamai dengan garis takdir yang membawaku ke Jakarta yang - jujur saja - Ibarat istri judes hasil perjodohan orang satu kampung - didatangi salah, tak didatangi tak ada pilihan.
1 Ramadhan dua tahun lalu juga awal pertamakali mencoba merangkai ulang dan menata mimpi-mimpi agar sesuai untuk Kota ini.
Kadang terasa berat, berada di kota yang walaupun sudah dua tahun berjalan masih terasa asing tambah lagi, harus hidup bersama dan bertoleransi dengan puluhan hal-hal yang tak kusukai.
Tapi aku tak bisa pergi, bukan masalah tak adanya pilihan, tapi aku memilih untuk tidak akan pergi. Demi mimpi yang baru, terpaksa mimpi yang lama tentang kehidupan yang damai dan tenang ku bungkam dulu...
Dan belum tahu mau sahur dimana... jangankan urusan makan sahur - untuk ukuran orang yang tidurnya beda tipis sama pingsan ini - bangun sementara matahari masih berada di langitnya Alaska sono rasanya memang berat....
Jadi berharap banyak pada alarm HP yang disetel ke volume max
Alangkah indahnya tahun-tahun yang lalu, ketika urusan bangun sahur adalah urusan menunggu dibangunkan, menu sahur sudah tersedia, tak perlu keluar rumah, tak perlu pilih-pilih warung dan tak perlu berurusan dengan tukang warung yang memiliki muka berciri insomnia itu...
Hhhhhhhhh... (narik nafas, rebahan sambil termenung memandangi kelap kelip cahaya bintang dilangit - yang entah sejak kapan bisa nembus loteng...)
Ah...alangkah cepatnya waktu berlalu, "time does fly"
1 Ramadhan dua tahun lalu, adalah awal aku mulai belajar untuk berdamai dengan garis takdir yang membawaku ke Jakarta yang - jujur saja - Ibarat istri judes hasil perjodohan orang satu kampung - didatangi salah, tak didatangi tak ada pilihan.
1 Ramadhan dua tahun lalu juga awal pertamakali mencoba merangkai ulang dan menata mimpi-mimpi agar sesuai untuk Kota ini.
Kadang terasa berat, berada di kota yang walaupun sudah dua tahun berjalan masih terasa asing tambah lagi, harus hidup bersama dan bertoleransi dengan puluhan hal-hal yang tak kusukai.
Tapi aku tak bisa pergi, bukan masalah tak adanya pilihan, tapi aku memilih untuk tidak akan pergi. Demi mimpi yang baru, terpaksa mimpi yang lama tentang kehidupan yang damai dan tenang ku bungkam dulu...
