Selasa, 10 Agustus 2010

Ramadhan di Rantau

Wah, besok udah masuk Ramadhan lagi. Tapi berhubung perhitungan tanggal Islam dimulai setelah maghrib, berarti secara tekhnis, sekarang sudah 1 Ramadhan. Yah, watever lah, puasanya tetap siang kok, bukan malam.

Dan belum tahu mau sahur dimana... jangankan urusan makan sahur - untuk ukuran orang yang tidurnya beda tipis sama pingsan ini - bangun sementara matahari masih berada di langitnya Alaska sono rasanya memang berat....
Jadi berharap banyak pada alarm HP yang disetel ke volume max

Alangkah indahnya tahun-tahun yang lalu, ketika urusan bangun sahur adalah urusan menunggu dibangunkan, menu sahur sudah tersedia, tak perlu keluar rumah, tak perlu pilih-pilih warung dan tak perlu berurusan dengan tukang warung yang memiliki muka berciri insomnia itu...
Hhhhhhhhh... (narik nafas, rebahan sambil termenung memandangi kelap kelip cahaya bintang dilangit - yang entah sejak kapan bisa nembus loteng...)

Ah...alangkah cepatnya waktu berlalu, "time does fly"
1 Ramadhan dua tahun lalu, adalah awal aku mulai belajar untuk berdamai dengan garis takdir yang membawaku ke Jakarta yang - jujur saja - Ibarat istri judes hasil perjodohan orang satu kampung - didatangi salah, tak didatangi tak ada pilihan.
1 Ramadhan dua tahun lalu juga awal pertamakali mencoba merangkai ulang dan menata mimpi-mimpi agar sesuai untuk Kota ini.

Kadang terasa berat, berada di kota yang walaupun sudah dua tahun berjalan masih terasa asing tambah lagi, harus hidup bersama dan bertoleransi dengan puluhan hal-hal yang tak kusukai.
Tapi aku tak bisa pergi, bukan masalah tak adanya pilihan, tapi aku memilih untuk tidak akan pergi. Demi mimpi yang baru, terpaksa mimpi yang lama tentang kehidupan yang damai dan tenang ku bungkam dulu...

Minggu, 01 Agustus 2010

Jakarta oh Jakarta


Gedung baru sedang dibangun lagi tak jauh dari tempat kost. Siang malam non stop para tukang yang datang entah darimana bekerja berganti-ganti ber tak-tok tak-tok ria. Di selingkaran pagar seng yang menutupi lokasi pembangunan dipasang Iklan memperlihatkan gambar seorang wanita cantik bergaun malam nan indah duduk santai sambil menikmati pemandangan kota pada malam hari dari ruangan apartemennya yang mewah, jari manis di tangannya yang sedang memegang gelas anggur kelihatan memakai cincin berlian.
Kesimpulan : Para tukang itu boleh saja ber tak-tok tak-tok mati-matian, tapi gedung itu nanti bukan buat mereka, karena mereka pria, karena mereka tidak cantik dan juga bukan buat istri-istri mereka, karena mereka tak mungkin sanggup membelikan istri masing-masing cincin berlian.

Ah, peduli amat aku dengan gedung dan gambar wanita cantik itu. Yang aku pikirkan sekarang adalah, kalau nanti gedug itu selesai dibangun, maka praktis kampung tempat aku menumpang hidup ini dikelilingi gedung-gedung tinggi, dan mungkin hanya menunggu waktu sampai kampung ini punah dan menyisakan hanya kompleks gedung-gedung tinggi.

Sekarang aku berpikir-pikir. Aku, yang cuma pegawai biasa, tak mungkin bisa tinggal di kawasan ini, tak mungkin juga di radius 15 Km dari daerah ini, karena harga tanah sudah mencapai tingkat yang tak logis dan sempit pula. Maka, untuk orang yang tak punya uang untuk membelikan istrinya (kalau nanti punya) cincin berlian ini, pilihannya cuma tinggal di luar kota. Kurang lebih 3 Jam MPM dari tempat ini (MPM : Macet, Padat, merayap - red).

Celakanya, aku bekerja di kawasan ini!!

Sekarang aku memang belum punya anak, jangankan anak, istri saja belum, jangankan istri, calon istri saja belum ada (duh!!). Tapi nanti kalau aku punya keluarga lengkap, maka aku bisa membayangkan tampangku sebagai salah satu para pekerja komuter khas Jakarta, yang artinya Berangkat kerja jam 5 pagi agar bisa datang jam 8 di kantor saat anak-anak masih tidur dan emaknya masih belum mandi, dan jam 5 sore buru-buru beranjak dari kantor supaya bisa sampai di rumah jam 8 malam dengan harapan anak-anak belum tidur dan emaknya belum mengantuk.

Duh!! 6 jam habis di jalan untuk bekerja 8 jam?