Minggu, 03 Oktober 2010

Satu tahun berlalu...


Sepertinya agak telat, karena ini sebaiknya ditulis tepat di 30 september. Tapi apa boleh buat, 30 september kemarin aku pulang telat karena melakukan sebuah pekerjaan yang menuntut untuk lembur : menunggui orang lembur, 1 Oktober lupa menulis karena kegirangan habis gajian, 2 Oktober sibuk mencobai mainan baru yang dibeli setelah gajian. Maka baru hari ini aku bisa menuliskan sedikit kenangan tentang 30 September yang remuk.

Bukan, bukan 30 September 1965 yang berdarah. tapi 30 September 2009 yang mencatatkan satu cerita yang akan menjadi bayangan tak terhapus dari memori.

Petang hari 30 september 2009, ketika satu gempa besar yang meluluh lantakkan kota. Melenyapkan tiga desa, menghilangkan ribuan nyawa dan sekaligus nyaris mengisolasi kota dari peradaban luar.


Gempa adalah terror sejati, ketakutan paling dalam. Jika api mengamuk kita harapkan air menjinakkannya, jika air mengamuk kita lari ke tempat yang tinggi. Tapi jika tanah yang mengamuk dia akan membawa api dan mungkin juga air turut menambah nesatapa.

Dan setelah goncangan berakhir, kota nyaris menjadi hitam dan sunyi sempurna, tidak ada listrik, tidak ada komunikasi, tidak ada aliran air PDAM, bahkan tak ada kabar dari sanak keluarga yang belum pulang sejak siang tadi.

Duhai, kalau hendak dikenang sakitnya. Biarpun tak ada keluarga dekatku yang jatuh korban, tapi alangkah hati teriris melihat pria muda yang mengais-ngais reruntuhan dengan jari-jari tangannya sendiri demi mengeluarkan jenazah anak perempuannya yang bahkan belum cukup umur untuk disebut gadis. Menyakitkan, sungguh menyakitkan melihat negeri yang dikenal begitu baik nyaris rata dengan tanah, tiga desa yang permai secara harfiah benar-benar lenyap ditelan bumi. Dan lebih menyakitkan lagi ketika para nabi Palsu naik keatas mimbar-mimbar, berbicara kepada semua orang dan menulis di blog-blog, menyambung-nyambungkan antara peristiwa, waktu kejadian dan ayat-ayat suci Al-Quran demi menarik sebuah kesimpulan "Pantas saja orang padang beroleh musibah yang berat, karena mereka begini dan begitu"

Tapi sudahlah, apapun yang sudah terjadi biarlah. Yang terpenting bukanlah mengenang-ngenang seberapa keras kita terjatuh, seberapa pahitnya yang kita kecap dan seberapa perih luka-luka kita. Tetapi berapa kuat kita bangkit? Seberapa keras usaha kita untuk kembali berdiri tegak di kaki sendiri? dan berapa jauh kita telah melangkah meninggalkan jejak yang menyakitkan itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar