

Saat saya ke warung untuk membeli beberapa bungkus mie instan sebagai “cadangan makanan darurat anak kost” saya tak sengaja mendengar sebuah dialog interaktif yang cukup seru antara, Sukriman, kribo dan beni (tiga-tiganya nama samaran) :
Sukriman (sambil menghembuskan asap rokok kretek) : Eh, tau gak sih lo? gue udah jijik banget liat polisi sekarang, gila, bentar-bentar minta duit inilah, itulah. Di perempatan sengaja banget ngumpet, ngincar2 orang yang gak pake helem. Orang masuk penjara, bisa keluar masuk seenaknya asal bayar. Buset, katanya profesional, mana buktinya?
Kribo (tidak ikut merokok, tapi ikut menimpali) : Bukan cuma polisi man, memang pemerintah kita itu udah bobrok. Anggota dewan sibuk pelesiran, mau bikin gedung baru pake duit rakyat. Pejabat anu sama itu (menyebut beberapa nama pejabat), udah jelas-jelas kena korupsi dibiarin aja. Janji palsu aja pas kampanye!
Beni (merokok, sekaligus menimpali) : Iye, bener lu berdua. Gua aja nih, jangankan pejabat-pejabat yang di tipi, yang kasusnya udah gede-gede, atasan gua di kantor aja bisa nilap duit berjuta-juta tau gak lo. MasyaAllah, gak ingat akhirat apa? Lupa kali ya? kalau mereka itu kerjanya digaji pakai uang rakyat kecil? masih aja……
Sayangnya, saya tidak mengikuti “dialog interaktif” bersama “pakar warung” tersebut sampai selesai. Tetapi dialog singkat itu sudah cukup untuk membuat saya pulang ke tempat kost sambil menahan senyum.
Saya tersenyum geli bukan karena meremehkan kapabilitas mereka bertiga untuk bicara pemerintahan, politik ataupun korupsi. Toh ini negara demokrasi, siapa saja bebas berpendapat tentang apa saja. Urusan punya ilmunya atau tidak itu urusan belakangan.
Yang membuat saya geli adalah profesi ketiga “pakar” tersebut : Sukriman adalah seorang “pengamen gajebo” di sebuah terminal di Ibukota negara ini. Biasanya nyanyi2 tak jelas, kemudian meminta uang dengan sedikit memaksa, disinyalir sekali-sekali saat bus sepi juga merangkap copet. Kribo adalah montir elekronik yang terkenal bukan karena skill, tapi karena sering me mark-up harga suku cadang televisi dan tape compo. Sementara beni adalah PNS golongan rendah yang sudah 4 tahun nyaris dilupakan oleh teman-teman sekantornya-bahkan sudah tak punya meja kerja-lantaran datang hanya sebulan sekali saat gajian.
Hmmm… bicara tentang “profesinalitas”, “kejujuran” dan “pengabdian”
Di lain kesempatan, saya yang waktu itu baru diterima jadi CPNS salah satu Kementrian di negara ini (saking barunya, saya bahkan belum mulai bekerja) bertemu dengan seorang kerabat. Setelah beberapa dialog “standar” keluarga jauh yang jarang bertemu. Tiba-tiba saja dia bertanya dengan setengah berbisik “Eh, Ndi, elo lulus CPNS di kementrian xxx gimana caranya sih?”
Dengan polos, lugu dan spontan saya jawab dengan tiga huruf : “Tes”
“Bukan ituuuuu, maksudnya, pake orang dalam gak? ato bayar berapa? sama siapa bayarnya? gitu. gua juga pengen”
Spontan saya ngakak. Bukan pertama kali saya ditanyai begini, sering malah. Saking seringnya saya pun jadi malas menjelaskan bahwa saya benar-benar lulus tes, lantaran sebelumnya banyak yang kelihatan tidak percaya dan masih terus memaksa-maksa “udah jujur aja deh”.
Mungkin muka saya tidak kelihatan seperti muka orang jujur, tipe muka saya sepertinya adalah muka yang kemana-mana akan dicurigai melakukan kecurangan dalam hal apapun yang saya lakukan. Tapi ya sudahlah, sekali lagi, ini negara demokrasi, berpendapat boleh dan sekalipun punya hak untuk membantah dan mengajukan bukti-bukti, saya malas, capek.
Saya jadi terpikir tentang Sukriman, kribo dan beni. Yang anggap saja sampel dari kelompok “orang kecil”. Dibandingkan dengan kerabat saya yang bisa dikatakan wakil dari kelompok “orang agak besar” (lantaran keluarganya berada, dan diapun pemegang titel Strata II”, dan dibandingkan juga dengan para pejabat yang tak usah dijelaskan disini karena sudah sering muncul di tivi (entah terpaksa muncul karena terjerat kasus korupsi atau sengaja muncul demi kampanye dan pencitraan). Yang bisa dianggap mewakili “orang besar”. Ternyata sampel dari ketiga kelompok ini menunjukkan sifat yang sama : Cenderung korup
Memang tidak ilmiah, kalau dengan sampel secuil itu saya kemudian menyimpulkan bahwa bangsa ini korup atas-bawah-kiri-kanan. Tetapi, kalau kita sama-sama mengamati, tabiat semacam Sukriman & Co, kerabat saya dan pejabat korup bukanlah barang langka di negara ini. Dengan mudahnya, hampir dimanapun kita bisa menemui mulai dari pengamen merangkap copet, pengasong merangkap pemeras, polisi terima suap, sarjana yang ingin menyuap agar lulus tes PNS (terbukti dari banyaknya orang tertipu pada kasus ini : http://hariansib.com/?p=6692), pengusaha-pengusaha yang malas memikirkan nasib karyawan dan hobi berkelit dari peraturan, sampai kepada pejabat-pejabat yang korup.
Ibaratnya, dalam suatu sistem makan-memakan yang keji dan tidak berperikemanusiaan, pejabat korup menjadi terlihat jelas karena merekalah yang berada di puncak piramida makanan dan makannya paling banyak.
Seorang teman saya pernah bilang (sepertinya dia mengutip, tapi saya tidak tahu darimana) “Yang salah di Indonesia itu cuma satu orang, yaitu kamu!”
Senada dengan yang dulu sering diucapkan oleh almarhumah nenek saya “Ukur pinggiran kainmu sendiri-sendiri”
Nanti dulu sibuk-sibuk mengurusi orang lain, saatnya kita semua menyibukkan diri mereparasi diri sendiri. Ada dua hal yang bisa berubah, orang lain dan diri kita. Orang lain hanya bisa kita “harapkan” berubah, tetapi diri kita sendiri bisa kita rubah. Karena itu, sambil mengharapkan dan menunggu orang lain berubah, kita juga berubah!

